Showing posts with label Kisah. Show all posts
Showing posts with label Kisah. Show all posts

Kisah Nyata: Seorang yang Seumur Hidupnya Jarang Sholat, Tapi Diakhir Hayatnya Meninggal Dalam Keadaan Sholat di Tanah Suci

Ada seseorang yang berniat menunaikan ibadah umrah. Tiga hari berturut-turut mimpi mengajak tetangganya umrah. Uniknya, tetangga yang mau diajak itu tidak pernah mendirikan sholat lima waktu.


Mimpi yang lumayan aneh itu, fulan pun konsultasi kepada seorang kiai. "Yai, saya ini mau umrah. Tapi tiap malam saya bermimpi disuruh mengajak tetangga saya. Padahal saya tahu tetangga saya itu tidak pernah sholat."

"Nah, gini saja. Nanti malam sholat Istikharah. Kemudian, lihat, nanti malam Allah kasih mimpi apa."

Ternyata mimpinya tidak jauh berbeda; diminta ngajak umrah tetangga yang jarang sholat itu. Fulan pun konsultasi kepada sang kiai. "Ya udah. Ajak umrah," ucap Kiai.

Fulan pun mengunjungi rumah tetangganya itu.

"Pak, kita umrah yuk!"

"Dik, boro-boro saya umrah. Sholat aja nggak. Nggak tahu sholat. Nggak pernah diajarin orangtua saya. Dan salahnya saya juga tidak mau belajar," kata tetangga yang sepuh itu.

"Ya udah, Pak. Saya yang ngajarin bapak sholat," kata fulan itu.

Dengan izin Allah, mereka pun berangkat ke Tanah Suci. Menjelang pulang, karena merasakan bersyukur sekali, tetangga meminta izin untuk sholat sekali lagi. Dan itulah sholat terakhir dia, meninggal di sana, di Tanah Suci. Selama di Tanah Suci ia tobat luar biasa, mohon ampun kepada Allah SWT.

Seumur-umur jarang menunaikan sholat, meninggal dalam keadaan sholat. Fulan pun bertanya kepada kiai, "Mengapa bisa begini?"

Ternyata ketiadaan ilmu dan kurangnya menimba ilmu, ada kebaikan yang lain yang dimiliki. Tetangga itu senang sedekah, senang menolong orang lain. Dan orang-orang yang ditolongnya itu ada yang sholat malam dan meminta kepada Allah agar tetangga tersebut meninggal dalam keadaan husnul khatimah.

Maka, kita perlu husnudzon kepada orang yang belum atau tidak mau mendirikan sholat seraya mendoakan semoga mendapatkan kebaikan.

Kematian bisa datang kapan pun. Bisa dalam keadaan meninggalkan sholat, atau dalam keadaan sholat. Allah punya kuasa atas segala hal. Dan melakukan pembiasaan baik adalah pilihan baik. Sebab, malaikat tak pernah bisa diajak kompromi ketika mencabut nyawa kita. Semoga kita husnul khatimah.

Gembong Kafir ini Berencana Membunuh Nabi, Tapi yang Terjadi Dia Justru Masuk Islam

Sahabat Umair bin Wahab dan Sofwan bin Umayyah adalah veteran Perang Badar. Sebelum masuk Islam keduanya yang termasuk gembong kafir Quraisy ini sempat terluka dalam Perang Badar.


Umair adalah salah seorang yang pernah melukai tubuh Rasulullah SAW dan para sahabat. Umair tinggal di Mekkah, memiliki anak bernama Wahb bin Umair yang ditawan dalam perang tersebut.

Suatu hari kedua gembong kafir itu bertemu. Umair berkeluh-kesah tentang anaknya yang ditawan. Mendengar keluhan tersebut, Sofwan berkata, "Demi Latta, mereka tidak akan selamat dan sentosa setelah ini."

"Engkau benar, Sofwan," kata Umair. "Demi Uzza, seandainya bukan karena utang-utangku dan keluargaku yang aku takutkan nasib mereka sepeninggalku, tentulah aku akan datangi Muhammad dan bunuh dia. Aku memiliki anak yang sekarang ditawan mereka."

Mendengar hal itu berkatalah Sofwan, "Wahai Umair, utangmu menjadi tanggunganku, aku yang akan membayarnya. Keluargamu menjadi tanggunganku andai engkau mau membunuh orang yang telah mendatangkan kesulitan itu."

Maka berkatalah Umair, "Rahasiakanlah apa yang kita bicarakan ini." Jawab Sofwan "Ya, aku akan merahasiakannya."

Umair pun berangkat menuju Madinah, ia bertemu dengan Umar bin Khattab dan beberapa sahabatnya yang sedang bercerita tentang kejadian Perang Badar dan bagaimana Allah memuliakan mereka dalam perang tersebut. Ketika Umar bin Khattab melihat Umair yang sedang menaiki untanya dan tiba di depan pintu masjid dengan pedang terhunus, Umar berkata "Inilah anjing, musuh Allah. Demi Allah, dia tidak datang kesini kecuali dengan niat yang buruk."

Maka, masuklah Umar menemui Rasulullah dan berkata; "Wahai Nab Allah, ada Umair bin Wahb datang kepada kita dengan pedang terhunus."

Rasulullah meminta agar Umair didatangkan kepada beliau, menemuinya. Umar pun menemui Umair, seraya memegang tali pedang yang ada di punggung Umair. Keduanya menemui Rasulullah. Umar berkata kepada sejumlah orang dari kalangan Anshar, "Masukkanlah Umair ini untuk menemui Rasululah, dudukkan di samping beliau. Hati-hatilah, orang ini sangat berbahaya."

Sesampai kedatangan Umair, Rasulullah SAW bertanya, "Apa yang mendorongmu datang ke sini wahai Umair? Umair menjawab, "Aku datang untuk anakku yang kamu tawan. Berbuat baiklah padanya."

Rasulullah menjawab, "Ada apa kamu datang kemari dengan membawa pedang ?" Umair menjawab, "Semoga Allah menjelekkan pedang-pedang mereka, apakah kalian merasa tidak butuh kepadaku?"

Rasulullah bersabda, "Jujurlah kepadaku, apa tujuanmu datang ke sini?"

"Aku tidak datang ke sini kecuali untuk mengatakan itu saja," jawab Umair.

Rasulullah menegaskan, "Bukan itu, tetapi kamu dan Sofwan bin Umayyah telah duduk-duduk di dalam kamar. Kalian berdua membicarakan tentang orang-orang yang kalian benci dari kalangan Quraisy, kemudian kamu mengatakan seandainya dirimu tidak punya utang dan tanggungan keluarga, tentulah kau akan pergi dan membunuhku," kata Nabi.

Mendengar penuturan Rasul, Umair terkejut. Tak ada seorang pun yang menyaksikan dialog antara dirinya dan Sofwan. Langsung ia berkata menyatakan keislamannya."

"Aku bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah. Sungguh selama ini kami selalu mendustakan semua wahyu dan berita-berita dari langit yang engkau bawa. Kejadian yang aku alami bersama Sofwan diketahui dirimu padahal tidak ada yang menyaksikan kejadian itu selain kami berdua. Demi Allah tidak ada yang memberikan informasi tentang kejadian itu kepadamu kecuali Allah. Segala puji bagi Allah yang telah memberikan petunjuknya kepadaku sehingga aku masuk Islam."

Kepada para sahabat yang hadir, Rasulullah bersabda, "Ajarilah saudara-saudaramu dengan agama ini, dan bacakanlah kepada mereka Al Quran. Lepaskanlah anak Umair dari tawanan." (mozaik.inilah.com)

Orang Tua Ini Sudah 2 Hari ke Mesin ATM Tunggu Anak Kirim Uang, Tapi yang Terjadi Sungguh Amat Menyedihkan

Selama ini peran orangtua yang paling menonjol adalah ibu. Ibu tak pernah henti-hentinya menasehati atau memarahi bila sang anak melakukan kesalahan. Begitu juga dengan kasih sayang yang diutarakannya.


Sementara peran ayah, ayah kerap kali dianggap sebagai makhluk paling kuat. Padahal nyatanya tidak. Ayah juga bisa menangis ketika anaknya jatuh sakit atau mengalami sebuah musibah. Kasih sayang ayah juga tak kalah besar dengan ibu, meskipun hal ini tidak pernah ditunjukkan secara langsung.

Maka dari itu, jangan pernah menyia-nyiakan kedua malaikat berwujud manusia ini. Bahagiakanlah mereka selagi mereka masih hidup, jangan sampai kita menyesal karena telah menyia-nyiakan mereka. Dan kisah yang satu ini mungkin bisa menjadi pelajaran bagi kita.

Kisah ini sendiri diposting oleh akun Facebook Ak Mal. Dalam kisah ini, diceritakan ada seorang anak yang mengerjai sang ayah. Dia mengatakan pada ayahnya bila dia telah mengirim uang, namun setelah di cek ayahnya, sepeser uang pun belum masuk di ATM.

Bahkan sudah hampir dua hari, sedangkan ayahnya sendiri sangat membutuhkan uang saat itu. Untuk membeli makanan saja ayahnya sudah tidak punya uang.

Adapun kisah lengkapnya di bawah ini. Dikutip TribunSumsel.com, berikut bunyi kisahnya:

Saat pulang kerja mampir ke ATM di stasiun pengisian bahan bakar. Selesai ambil uang ketika dalam perjalanan menuju mobil, aku lihat seorang pria paruh baya memakirkan motor di samping mobil ku.

Aku lihat raut wajahnya seperti kebingungan. Kemudian aku sapa dia.

A: Assalamualaikum

P: Waalikumusalam ya nak

A: Saya lihat bapak seperti ada masalah. Mau ambil uang ya

P: Ya nak. Mau ambil uang tapiii!!!

A: Rapi apa pak. Uangnya tidak keluar ya?

P: Bukan nakk, saya sudah tunggu selama dua jam, kata anak saya di Kuala Lumpur mau kirim uang. Dh saya cek dua hari uangnya belum ada “(Anaknya yang berada di samping langsung berbisi meminta ayahnya untuk pulang karena mau hujan. Kita makan apa adanya) Tapi nak, gas di rumah habis.

A: Coba bapak telpon (Sambil aku ulurkan sejumla uang)

P: Sdh ditelpon, dia bilang tunggu malam nanti. simpan saja uang mu nak (si bapak berlinang air mata).

A: Kemudian aku raih tangan anak si bapak: Dik ambil uang ini beli gas dan ajak ayah makan. Blajar rajin2 bantu ayah dan ibu bila sudah sukses

P: Terima kasih nak ya, bapak mau pulang, ini sudah mau hujan. Semoga Allah memurahkan rezeki mu dunia dan akhirtat. Amiiin

Lewat postingan ini aku ingin memberitahu anak si bapak yang berada di Kuala Lumpur, pulanglah selagi orangtua mu masih ada.

Jangan menyesal di kemudian hari atas pelakuan yang kita lakukan sekarang.

Baru 3 Minggu Berbulan Madu, Suaminya Malah Meninggal. Curhatan Sedih Istrinya Jadi Viral

Tak ada yang tahu kapan maut akan menjemput.

Ketika ia datang, maka tak seorangpun manusia yang bisa menghindar ataupun bersembunyi.

Terkadang kematian seseorang bisa begitu menyesakkan bagi orang-orang yang ditinggalkan.

Apalagi jika kepergian itu begitu mendadak dan datang justru ketika suasana sedang bahagia.


Mungkin itulah gambaran yang tepat untuk melukiskan kejadian pahit yang dialami oleh wanita berhijab ini.

Baru tiga minggu selepas ia mengucap janji suci pernikahan dengan pria pemilik hatinya di depan penghulu, namun malang sungguh tak bisa ditolak.

Sang suami ternyata harus terenggut oleh maut begitu cepat dari pelukannya.

Wanita pemilik nama Instagram @syahidasamsul tersebut menikah dengan sang suami Mohd Syahmi Mohd Shafee (28) sekitar 3 minggu lalu.

Naas, belum segenap rumah tangga mereka berjalan, Shafee mengalami kecelakaan parah yang merenggut nyawanya.

Dilansir dari Ohbulan, Shafee meninggal dunia setelah mobilnya kecelakaan dengan sebuah truk muatan.

Peristiwa tragis tersebut terjadi di Plaza Tol Subang, Malaysia pada tanggal 20 September lalu.

Kejadian itu tentu meninggalkan duka yang begitu mendalam bagi sang istri.

Di akun Instagramnya, ia mengeluarkan segala kesedihan hati dengan cerita dan kalimat-kalimat yang begitu menyentuh banyak netizen.

Maklum, pernikahan mereka bahkan belum seumur jagung, Syahida harus rela melepaskan suaminya kembali ke Sang Pencipta.

Postingan-postingan Syahida langsung menjadi viral dan menyedot perhatian netizen.

Banyak yang kemudian mendoakan agar ia bisa tabah menerima cobaan tersebut.

"Turut berduka, semoga tabah," tulis @nrlzafrh.

"Semoga terus tabah," tulis @meowmyaaa.

"Smg Allah menempatkan arwah dlm kalangan org2 yg beriman dan beramal soleh. Stay strong kak. Sedekahkan Al-Fatihah selalu buat arwah," tulis @aamal.lina.

Berikut merupakan beberapa postingan sedih Syahida tentang kepergian suaminya :


Sayang... Aku tak pernah terbayang kamu akan tinggalkan aku secepat ini..

Kamu katakan semalam, 'nanti kita bertemu ya', tapi aku tak pernah terbayang kita akan berjumpa dalam keadaan ini.

Baru sehari berjauhan aku sudah rindu, bagaimana bisa aku berjauhan denganmu seumur hidup.

Ya Allah, terimakasih karena menghadiahkan aku suami terbaik selama tiga minggu ini.

Tak mampu aku ucapkan dengan kata-kata.

Selamat ualng tahun sayang, semoga tenang di sana.

Insya Allah aku akan jaga diri.

Ia juga memposting status lain yang mengungkapkan bahwa baginya sang suami adalah kekasih akhir hayat.

Berikut postingannya :

Kekasih akhir hayat.... 4 tahun aku menunggumu menjadikanku istri.

Alhamdullilah aku menjadi istrimu hingga akhir hidupmu.

Aku merindukanmu sayang...

Sepanjang malam aku berdoa, berharap semua ini hanyalah mimpi buruk.

Tapi ketika aku bangun, kamu tak ada lagi di sampingku.

Dan aku mulai sadar...

Insya Allah aku kuat agar kamu tenang di sana.

Kamu surga dunia dan surga akhiratku..

Beberapa hari yang lalu Syahida sempat memposting kemeriahan resepsi pernikahannya yang memang baru saja dilaksanakan.

Ia tak menyangka jika hanya dalam waktu singkat kebahagiaan itu berubah menjadi duka yang mendalam.

"Aku terima nikahnya MOHD SYAHMI BIN MOHD SHAFEE.. Cia ciaa ciaaa.." tulis Syahida.

Dalam Instagramnya bisa terlihat jika postingan yang tampaknya diambil ketika acara akad nikah tersebut diunggah sekitar 4 minggu lalu.

Ia tampak bahagia dan tersenyum lebar, namun kini wanita cantik tersebut sedang berusaha menguatkan diri untuk menerima kepergian sang suami. [cerminan.com]

Kisah Nyata: Azab Zina di Balik Bencana Garut

Hari ini adalah hari pertama saya bisa membantu orang yang terkena bencana. Ya, bencana yang tak diduga, Bencana Garut. Saya bergegas bersama teman-teman saya, bisa dibilang mewakili kampus kami. Tapi tidak resmi, hanya inisiatif kebanyakan teman-teman saya dan dukungan para dosen.


Kita semua berduka dengan Bencana Garut, #PrayForGarut. Mayat bayi-bayi berserakan. Nenek-nenek yang tidak bisa melarikan diripun ikut terseret air. Bahkan, di tempat saya ikut berbersih, ada 2 mayat yang membuat saya kaget, 2 bayi mungil yang sudah tertutup lumpur.

Sedih, campur rasa takut, karena ini pertama kali saya menyaksikan langsung bencana yang membuat histeris banyak keluarga. Yang pasti, semua ini tidak lepas dari takdir Allah yang Maha segalanya. Saya bukan ahlinya untuk mengangkat mayat, karena di tempat tersebut ada bagian evakuasi mayat, maka saya beritahu kepada mereka untuk bantu mengevakuasi mayat bayi tersebut. Dan akhirnya, mayat bayi itu akhirnya diletakkan di tempat yang semestinya.

banjir-bandang-di-padangSetelah saya dan teman-teman selesai bersih-bersih, saya melihat sosok kakek yang sedang duduk termenung bersandar di dinding dekat tempat kami berkumpul. Kalau dilihat dari fisiknya, beliau sekitar umur 60 sampai 65 tahun. Beliau duduk dan terlihat matanya berkaca-kaca.

Ada yang aneh, saya merasa harus mengajak ngobrol kakek itu. Entah kenapa, kaki ini seperti ada yang memaksa melangkah menuju kakek itu. Duduklah saya disamping kakek itu, dan saya coba buka pembicaraan.

saya: “kek, ada yang bisa saya bantu?”, saya bertanya pelan.

kakek: Iya nak, tolong ambilkan minum. saya haus, dari semalam belum dapat minum. Akhirnya saya ambilkan air untuk kakek itu.

Kakek itu mulai mengajak bicara, dan sudah tidak berkaca-kaca lagi, hanya menyisakan merah dimatanya.

kakek: Nak, terima kasih sudah datang membantu kampung kami. Kalau bukan dengan izin Allah, mungkin kami tidak ada yang membantu. Karena kampung ini terlalu banyak dosa.

saya: Allah sudah mengaturnya kek, Ini pelajaran untuk saya, agar senantiasa berbuat baik kepada sesama, termasuk kakek.

kakek: Bukan, bukan itu maksud saya nak. Berbuat baik kepada sesama itu harus. Tapi ada sesuatu dibalik banjir besar ini.

saya: Iya kek, apa tuh kek? Saya hanya liat di berita, bahwa air dari dua sungai tumpah ke kampung.

kakek: Coba kau liat dari jembatan, dari jembatan ke sungai jaraknya sangat jauh. Tidak masuk akal kalau air sungai bisa tumpah ke kampung kami.

saya: Ya, saya sudah lihat dari jembatan. Tapi memang karena mungkin hujan yang begitu deras membuat luapan yang dahsyat.

kakek: Mungkin saja. Tapi, selama saya tinggal disini. Ada satu hal yang membuat saya sedih. Bahkan murka.

saya: Kenapa kek? Boleh saya tau?

kakek: Jangan kamu kira kampung yang jauh dari perkotaan bebas dari zina. Zina disini sangat marak. Bahkan, kampung ini tempat yang aman untuk anak muda berzina.

saya: Hemmmmm

Kakek itu melanjutkan ceritanya,

Kakek: Di sini, di sungai ini. Sudah terlalu banyak bayi-bayi tak berdosa dibuang. Dibantu oleh bidan-bidan kampung yang tidak bertanggung jawab membantu proses aborsi. Di sini kami kekurangan Ustad yang menasihati kami. Itulah yang membuat kebanyakan orang dikampung ini jauh dari Allah yang akhirnya membuat mereka tidak takut berbuat maksiat.

Bersyukurlah mereka yang masih terjangkau oleh FPI (Front Pembela Islam), walaupun mereka terlihat seolah garang, tapi yang mereka lakukan benar. Membasmi kemaksiatan. Saya teringat hadits Rasulullah, kalau ada orang berzina, radius 40 rumah terdekat dengan pelaku zina bisa terkena efek azab dari Allah. Itulah kenapa Allah meluluhlantakan kampung kami.

Percakapan di atas menjadi nasihat untuk kita yang masih diberikan kehidupan aman oleh Allah. Lihatlah, sungai yang jarak ke jembatannya jauh nyatanya dengan takdir Allah bisa menjadi meluap. Percakapan diatas juga menjadi peringatan untuk kita.

Di saat kita ada celah untuk melakukan zina, ingatlah ada tetangga kita yang tak berdosa harus menanggung azab juga. Dan itulah pentingnya amar makruf Nahi Mungkar. Indahnya Islam, Allah menjadikan satu amar makruf dan nahi munkar. Keduanya harus kita lakukan. Karena mencegah kemungkaran sebenarnya adalah wujud kita cinta kepada sesama.

Semoga, Allah selalu menolong kita. Semoga, kita bisa mengambil setiap hikmah dari setiap kejadian. Wallahualam.

[inilah.com]

Inilah Kisah Seorang Pendeta yang Masuk Islam Setelah Gagal Bakar Alquran

Kisah ini diabadikan Manshur Al Iwaji dalam bukunya Ajaa'ib Al Qashash, mengutip berita harian umum Tartiim yang terbit di Nigeria.


Pastor Woll Frost, namanya. Pemuka gereja di Angola itu memegang sebuah mushaf dan menghadap jema'atnya. Ia kemudian melemparkan mushaf itu ke lantai dan menyiramnya dengan bensin. Orang-orang memperhatikannya dengan serius, saat Woll Frost menyalakan korek api. Namun entah bagaimana, tiba-tiba tangannya tersulut api dari korek itu. Mungkin tadi tangan itu terciprat bensin saat menyiram mushaf. Tangannya pun terbakar. Sedangkan mushaf tidak jadi dibakar. Tersentuh api pun tidak.

Menyaksikan peristiwa itu, para jema'at tercengang keheranan. Tetapi yang lebih heran adalah Woll Frost sendiri. Ia memikirkan peristiwa itu, dan mulai menyadari betapa ajaibnya Al Qur'an. Ia yang ingin membakar Al Qur'an, justru tangannya sendiri yang terbakar. Ia yang ingin menghina dan memalukan kitab suci umat Islam, malah ia sendiri yang dipermalukan.

Woll Frost memikirkan peristiwa itu, keajaiban itu, dan mulai menyadari bahwa ia baru saja diselamatkan dari hal paling gila yang akan dilakukannya. Selama ini kebencian membuatnya tertutupi dari kebenaran Al Qur'an. Selama ini kebencian membuatnya gelap memandang kitab suci yang mulai diakuinya penuh keajaiban. Dari lubuk hatinya yang paling dalam, ia kini menyadari bahwa Al Qur'an adalah kebenaran. Woll Frost pun kemudian mengikrarkan diri masuk Islam. Membaca syahadat.

Masuk Islamnya Woll Frost membuat lingkungannya gempar. Betapa tidak. Ia yang dulunya paling gencar memusuhi Al Qur'an, kini menjadi pengikutnya. Ia yang dulunya paling membenci Al Qur'an, kini mengakui kebenarannya. Ia yang dulu berniat membakar Al Qur'an, kini malah tunduk kepadaNya. Ia masuk Islam, menjadi mualaf, mengakui Al Qur'an sebagai wahyu Ilahi dan kitab suci.

Tak lama setelah keislaman Woll Frost, pemimpin gereka Angola Yaqoub Musa pun menyatakan masuk Islam. Keislaman keduanya diikuti oleh masuk Islamnya sekitar 200 orang lainnya.

Selain memimpin gereja, Yaqoub Musa adalah Sekretaris Jenderal Lembaga Misionaris di Angola. Ia memangku jabatan itu kurang lebih selama 22 tahun. Begitu masuk Islam, ia kemudian mengundurkan diri dari jabatan tersebut.

Ketika pemimpin redaksi harian Tartiim mewawancarainya, Yaqoub Musa mengatakan bahwa saat ini (sewaktu buku Ajaa'ib Al Qashash ditulis) ia menghabiskan waktunya untuk menyebarkan Islam di Nigeria.

Masya Allah… demikianlah saat hidayah datang. Ia datang dengan kepada siapa yang dikehendakiNya dengan berbagai cara yang kadang tak pernah diduga. Saat hidayah datang, dan seseorang menyambutnya dengan sepenuh hati, Allah pun mengubahnya dengan segera. Ia yang tadinya membenci Islam menjadi sangat mencintainya. Ia yang tadinya memusuhi Islam, kini menjadi orang yang membelanya. Ia yang tadinya memprovokasi orang lain agar menjauhi Islam, kini berubah menjadi dai yang menyeru manusia untuk beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

[kisahikmah.com]

Metro TV Melarangnya Berhijab, Sandrina Malakiano Mengundurkan Diri Jadi Presenter Berita

Sejak memutuskan untuk berjilbab, sosok Sandrina Malakiano tak lagi membawakan berita, Ia menghilang. Metro TV tempat ia bekerja dikecam karena melarang Sandrina Malakiano mengenakan jilbab pada saat siaran, meskipun Sandrina sudah memperjuangkannya selama berbulan-bulan dengan mengajak jajaran pimpinan level atas Metro TV berdiskusi panjang. Larangan inilah, alasan Sandrina keluar dari Metro TV.


(Curahan Hati Sandrina Malakiano dari Facebook-nya Sandrina Malakiano Fatah)

Setiap kali sebuah musibah datang, maka sangat boleh jadi di belakangnya sesungguhnya menguntit berkah yang belum kelihatan. Saya sendiri yakin bahwa ” sebagaimana Islam mengajarkan ” di balik kebaikan boleh jadi tersembunyi keburukan dan di balik keburukan boleh jadi tersembunyi kebaikan.

Saya sendiri membuktikan itu dalam kaitan dengan keputusan memakai hijab sejak pulang berhaji di awal 2006. Segera setelah keputusan itu saya buat, sesuai dugaan, ujian pertama datang dari tempat saya bekerja, Metro TV.

Sekalipun tanpa dilandasi aturan tertulis, saya tidak diperkenankan untuk siaran karena berjilbab. Pimpinan Metro TV sebetulnya sudah mengijinkan saya siaran dengan jilbab asalkan di luar studio, setelah berbulan-bulan saya memperjuangkan izinnya. Tapi, mereka yang mengelola langsung beragam tayangan di Metro TV menghambat saya di tingkat yang lebih operasional. Akhirnya, setelah enam bulan saya berjuang, bernegosiasi, dan mengajak diskusi panjang sejumlah orang dalam jajaran pimpinan level atas dan tengah di Metro TV, saya merasa pintu memang sudah ditutup.

Sementara itu, sebagai penyiar utama saya mendapatkan gaji yang tinggi. Untuk menghindari fitnah sebagai orang yang makan gaji buta, akhirnya saya memutuskan untuk cuti di luar tanggungan selama proses negosiasi berlangsung. Maka, selama enam bulan saya tak memperoleh penghasilan, tapi dengan status yang tetap terikat pada institusi Metro TV.


Setelah berlama-lama dalam posisi yang tak jelas dan tak melihat ada sinar di ujung lorong yang gelap, akhirnya saya mengundurkan diri. Pengunduran diri ini adalah sebuah keputusan besar yang mesti saya buat. Saya amat mencintai pekerjaan saya sebagai reporter dan presenter berita serta kemudian sebagai anchor di televisi. Saya sudah menggeluti pekerjaan yang amat saya cintai ini sejak di TVRI Denpasar, ANTV, sebagai freelance untuk sejumlah jaringan TV internasional, TVRI Pusat, dan kemudian Metro TV selama 15 tahun, ketika saya kehilangan pekerjaan itu. Maka, ini adalah sebuah musibah besar bagi saya.

Tetapi, dengan penuh keyakinan bahwa Allah akan memberi saya yang terbaik dan bahwa dunia tak selebar daun Metro TV, saya bergeming dengan keputusan itu. Saya yakin di balik musibah itu, saya akan mendapat berkah dari-Nya.

Hikmah Berjilbab

Benar saja. Sekitar satu tahun setelah saya mundur dari Metro TV, ibu saya terkena radang pankreas akut dan mesti dirawat intensif di rumah sakit. Saya tak bisa membayangkan, jika saja saya masih aktif di Metro TV, bagaimana mungkin saya bisa mendampingi Ibu selama 47 hari di rumah sakit hingga Allah memanggilnya pulang pada 28 Mei 2007 itu.

Bagaimana mungkin saya bisa menemaninya selama 28 hari di ruang rawat inap biasa, menungguinya di luar ruang operasi besar serta dua hari di ruang ICU, dan kemudian 17 hari di ruang ICCU?

Hikmah lain yang saya sungguh syukuri adalah karena berjilbab saya mendapat kesempatan untuk mempelajari Islam secara lebih baik. Kesempatan ini datang antara lain melalui beragam acara bercorak keagamaan yang saya asuh di beberapa stasiun TV. Metro TV sendiri memberi saya kesempatan sebagai tenaga kontrak untuk menjadi host dalam acara pamer cakap (talkshow) selama bulan Ramadhan.

Karena itulah, saya beroleh kesempatan untuk menjadi teman dialog para profesor di acara Ensiklopedi Al Quran selama Ramadhan tahun lalu, misalnya. Saya pun mendapatkan banyak sekali pelajaran dan pemahaman baru tentang agama dan keberagamaan. Islam tampil makin atraktif, dalam bentuknya yang tak bisa saya bayangkan sebelumnya. Saya bertemu Islam yang hanif, membebaskan, toleran, memanusiakan manusia, mengagungkan ibu dan kaum perempuan, penuh penghargaan terhadap kemajemukan, dan melindungi minoritas.

Saya sama sekali tak merasa bahwa saya sudah berislam secara baik dan mendalam. Tidak sama sekali. Berjilbab pun, perlu saya tegaskan, bukanlah sebuah proklamasi tentang kesempurnaan beragama atau tentang kesucian. Berjibab adalah upaya yang amat personal untuk memilih kenyamanan hidup.

Berjilbab adalah sebuah perangkat untuk memperbaiki diri tanpa perlu mempublikasikan segenap kebaikan itu pada orang lain. Berjilbab pada akhirnya adalah sebuah pilihan personal. Saya menghormati pilihan personal orang lain untuk tidak berjilbab atau bahkan untuk berpakaian seminim yang ia mau atas nama kenyamanan personal mereka. Tapi, karena sebab itu, wajar saja jika saya menuntut penghormatan serupa dari siapapun atas pilihan saya menggunakan jilbab.

Hikmah lainnya adalah saya menjadi tahu bahwa fundamentalisme bisa tumbuh di mana saja. Ia bisa tumbuh kuat di kalangan yang disebut puritan. Ia juga ternyata bisa berkembang di kalangan yang mengaku dirinya liberal dalam berislam.

Tak lama setelah berjilbab, di tengah proses bernegosiasi dengan Metro TV, saya menemani suami untuk bertemu dengan Profesor William Liddle ” seseorang yang senantiasa kami perlakukan penuh hormat sebagai sahabat, mentor, bahkan kadang-kadang orang tua ” di sebuah lembaga nirlaba. Di sana kami juga bertemu dengan sejumlah teman, yang dikenali publik sebagai tokoh-tokoh liberal dalam berislam.

Saya terkejut mendengar komentar-komentar mereka tentang keputusan saya berjilbab. Dengan nada sedikit melecehkan, mereka memberikan sejumlah komentar buruk, sambil seolah-olah membenarkan keputusan Metro TV untuk melarang saya siaran karena berjilbab. Salah satu komentar mereka yang masih lekat dalam ingatan saya adalah, Kamu tersesat. Semoga segera kembali ke jalan yang benar.

Saya sungguh terkejut karena sikap mereka bertentangan secara diametral dengan gagasan-gagasan yang konon mereka perjuangkan, yaitu pembebasan manusia dan penghargaan hak-hak dasar setiap orang di tengah kemajemukan.

Bagaimana mungkin mereka tak faham bahwa berjilbab adalah hak yang dimiliki oleh setiap perempuan yang memutuskan memakainya? Bagaimana mereka tak mengerti bahwa jika sebuah stasiun TV membolehkan perempuan berpakaian minim untuk tampil atas alasan hak asasi, mereka juga semestinya membolehkan seorang perempuan berjilbab untuk memperoleh hak setara? Bagaimana mungkin mereka memiliki pikiran bahwa dengan kepala yang ditutupi jilbab maka kecerdasan seorang perempuan langsung meredup dan otaknya mengkeret mengecil?

Bersama suami, saya kemudian menyimpulkan bahwa fundamentalisme “mungkin dalam bentuknya yang lebih berbahaya” ternyata bisa bersemayam di kepala orang-orang yang mengaku liberal.

***

Catatan: Pada Mei 2006, keputusan yang sulit pun akhirnya ia ambil. Sandrina resmi keluar dari stasiun televisi tersebut.

*Sumber Tulisan: Facebook Mba Sandrina Malakiano

Suami Selalu Pulang Dini Hari dan Langsung Mandi, Istri Menangis Setelah Mengetahui Rahasianya

Setahun sudah kami berumah tangga, kehidupan kami normal-normal saja. Meskipun belum memiliki rumah sendiri, sebagai istri, aku tidak mempermasalahkannya. Meski demikian, kami berusaha menabung setiap bulan agar bisa membeli rumah walau sederhana.


Ketika gaji suami naik dan tabungan terkumpul lumayan, kami memutuskan untuk membeli rumah seadanya. Yang penting bisa ditempati. Itu pun dengan tambahan pinjaman dari kerabat kami.

Memiliki rumah sendiri adalah kebahagiaan tersendiri bagi kami. Namun, suamiku harus bekerja lebih keras untuk mengembalikan pinjaman dari kerabat.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Mulai ada yang aneh dengan suamiku. Beberapa waktu lalu ia mengatakan akan lembur untuk mencari uang tambahan agar bisa melunasi pinjaman ke kerabat secepatnya. Namun…

Kini tiap hari ia lembur. Dan yang aneh, pulangnya dini hari. Sekitar jam 1 atau jam 2. Yang lebih aneh, begitu ia sampai rumah langsung mandi dan mencuci bajunya. Aku perhatikan beberapa hari, rutin ia lakukan begitu. Sampai di rumah langsung mandi dan mencuci baju. Aku jadi curiga.

Aku mulai mencurigai suamiku, jangan-jangan ia selingkuh. Bagaimana mungkin tiap hari lembur hingga tengah malam bahkan dini hari? Agar tak lama-lama dilanda ketidakjelasan, suatu hari aku pun mendatangi kantornya.

Ternyata benar. Suamiku tidak lembur. Aku pun mengikutinya. Ia menuju ke sebuah restoran barbeque. Dari seberang jalan aku mengatur emosi agar menahan diri.

Tampak suamiku keluar dari kembali dari restoran itu dengan baju putih, lalu ia mulai memanggang daging. Aku jadi ingat dulu suamiku pernah bilang ia suka memanggang daging dan banyak teman yang bilang kalau panggangannya enak.

Tak terasa air mataku menetes. Kuputuskan untuk masuk ke restoran itu dan memperhatikan suamiku lebih dekat. Ia tampak menikmati pekerjaannya namun tetap saja tanda lelah tampak dalam dirinya. Bagaimana tidak, sejak pagi ia telah bekerja di kantor dan kini ia bekerja lagi. Aku tidak bisa membayangkan, ia melakukan hal ini sampai tengah malam. Air mataku semakin deras.

"Pesan apa Bu?" tanya seorang pelayan. Aku segera mengusap air mataku.

"Segelas air minum saja, dan tolong kasihkan ke bapak yang memanggang daging itu," pintaku disambut tatapan aneh sang pelayan. Namun ia tetap memberikan minuman itu ke suamiku.

Saat suamiku menoleh ke arahku, ia kaget lalu mendatangiku. Aku memeluknya erat dan banjirlah air mataku.

"Sayang, bagaimana kau bisa sampai di sini?" tanyanya.

"Aku tunggu Mas pulang kerja ya."

Malam itu, suamiku menjelaskan semuanya. Dan aku pun meminta maaf telah mencurigainya.

"Maafkan aku. Aku melihatmu setiap pulang selalu langsung mandi dan mencuci baju. Rupanya kamu tidak mau tercium asap olehku. Aku sempat curiga kalau kamu memiliki wanita lain. Karena itulah aku mengikutimu."

"Mana mungkin?" kata suami sambil mencium keningku. "Engkau adalah wanita paling sempurna untukku. Sampai kapanpun tidak ada yang bisa menggantikanmu." [tarbiyah]

Cerita Habibie yang Memegang Teguh Status Warga Indonesia

Berbicara soal nasionalisme, maka mantan Presiden BJ Habibie merupakan sosok yang patut dijadikan teladan. Kendati telah tinggal dan bekerja cukup lama di Jerman, ia tak menanggalkan status kewarganegaraannya.


Di tanah rantau, ia justru memiliki cita-cita untuk membangun bangsa Indonesia dengan mengabdikan semua ilmu yang diperoleh.  Dalam buku "Habibie dan Ainun" BJ Habibie mengungkapkan bagaimana momen-momen ketika rasa cinta Tanah Airnya diuji.

Salah satu momen yang tak terlupakan adalah bagaimana ia ditawarkan bekerja di Boeing. Tawaran itu datang mengingat karya S3 Habibie tentang konstruksi ringan kecepatan supersonic bahkan hipersonic.

"Pekerjaan dan fasilitasnya yang ditawarkan sangat menarik dan meyakinkan. Saya diberi waktu untuk mempertimbangkannya," ujar Habibie dalam buku itu.

Habibie lantas berdiskusi dengan Ainun mengenai masa depan keluarga dan bangsa Indonesia. Bagi Habibie pilihan ini cukup sulit. Karena bekerja di Boeing semua kebutuhannya tetang informasi dan pengalaman dalam bidang konstruksi ringan bisa terpenuhi.  Begitu juga soal rekayasa pesawat terbang, termasuk pembuatannya.

"Boeing adalah perusahaan besar, sehingga saya dapat tenggelam dalam permasalahan rinci tanpa memiliki gambaran mengenai penyelesaian seluruh permasalahan," katanya.

Akhirnya Ainun menyerahkan keputusan kepada Habibie dengan sebuah catatan. Persyaratan itu yakni agar Habibie tak lupa dan mengingkari sumpah yang pernah diucapkan ketika sakit keras berbaring di rumah sakit. Berikut bunyi sumpah tersebut;


Terlentang!Jatuh!Perih!Kesal!
Ibu pertiwi
Engkau pegangan
Dalam perjalanan
Janji pusaka dan sakti
Tanah tumpah darahku makmur dan suci.

Hancur badan!
Tetap berjalan!
Jiwa besar dan suci
Membawa aku Padamu!

Arti Padamu yang dimaksud dalam tulisan itu adalah Indonesia makmur dan suci dengan mengandalkan sumber daya manusianya.  "Setelah kami renungkan bersama, tawaran Boeing kami tolak dan kami memutuskan agar saya melamar pada perusahaan kecil di Hamburg," ujarnya.

Habibie merupakan sosok yang sangat dihargai di Jerman. Tak hanya di bidang pesawat, namun juga ia berperan dalam membangun industri kereta Jerman.

Tak ayal pemerintah Jerman menawarkan status kewarganegaraan. Namun sekali lagi Habibie menolak tawaran itu karena persoalan etik dan moral.

"Saya pernah menolak tawaran untuk menjadi warga negara Jerman karena nilai moral dan etik tak dapat menerima tawaran tersebut. Sehingga sebagai jalan tengah saya bersama istri diberi izin tinggal dan bekerja seumur hidup di Departemen Pertahanan Jerman," tutur Habibie.

"Saya selalu menganggap keberadaaan saya di tanah rantau sebagai masa transisi untuk mencari pengalaman. Pengalaman ini saya perlukan untuk kelak dapat membantu bangsa saya dalam perjuangan yang sedang mereka laksanakan."

Momen penting lain yang juga tak pernah terlupa adalah bagaimana Habibie mendapat tawaran dari Presiden Filipina Marcos untuk membangun industri penerbangan Filipina.

Tawaran tersebut disampaikan langsung Marcos saat Habibie sedang berkunjung ke negara tersebut terkait proyek pembuatan helikopter. "Selamat datang di antara bangsamu, Dr habibie," kata Marcos yang menyambut Habibie.

Setelah menjelaskan keinginan membangun industri dirgantara Filipina, Marcos lantas mengajukan penawarannya ke Habibie. "Saya berharap Dr Habibie menerima tawaran saya untuk ikut membangun pusat keunggulan teknologi canggih dalam bentuk industri dirgantara di Manila," kata Marcos.

Habibie meminta waktu untuk berpikir. Dua pekan kemudian setelah menimbang berbagai hal, Habibie menolak tawaran itu. Alasannya, ia mengaku pernah berjanji hanya akan pindah dari pekerjaan di Jerman jika pulang ke Indonesia.

[Sumber: republika.co.id]